Indonesia mulai dari zaman dulu sampai sekarang tidakpernah berganti title menjadi negara berkembang. “Berkembang melulu bukannya dianggap maju kek”, begitulah
tuturan seorang rekan seperjuangan. Apa yang membuat Indonesia tidak
henti-hentinya dikatakan masih sebagai negara berkembang?
Negara-negara
Barat penghasil alat-alat canggih menciptakan milyaran unit untuk
menaikkan ekonomi negaranya. Negara di belahan Asia seperti Korea,
Thailand, China, dan Jepang pun memproduksikan barang-barang diperlukan
oleh ribuan penghuni dunia. Sedangkan Indonesia menproduksikan suatu
barang malah diekspor ke luar negeri dan sangat minim warga Indonesia
menggunakan produk dalam negeri. Warga Indonesia sendiri lebih percaya
dengan produk luar negeri yang dianggapnya lebih bermutu daripada barang
dalam negeri. Salah satu buktinya adalah krim pemutih. Korea
memproduksi krim pemutih agar semua orang tahu bahwa canti itu harus
putih. Akhirnya warga Indonesia yang ingin seperti bintang Korea
memiliki kulit putih bening harus membeli produk-produk pemutih mereka
yang harganya sanggup dicapai oleh kantong. Padahal jika dipikir-pikir
kulit kita sebagai warga Indonesia dengan kulit mereka di Korea
sangatlah beda. Pertama ditentukan oleh iklim yang sangat beda pula.
Indonesia beriklim tropis yang hanya didiami oleh musim panas dan hujan.
Sedangkan Korea memiliki musimnya tersendiri yang terdiri dari musim
panas, musim dingin dan salju. Sangat berbeda bukan dengan Indonesia?
Padahal ahli kecantikan dan dokter kulit di Indonesia telah mencari tahu
tentang kondisi kulit warga Indonesia. Sehingga mereka pun bisa
memproduksi krim-krim kulit untuk iklim tropis yang sangat cocok
digunakan oleh warga Indonesia.
Selain
itu juga lihatlah dengan maraknya kendaraan bermotor yang dijual murah.
Bisa dibayangkan jika setiap orang memiliki sepeda motor pribadi, apa
yang akan terjadi di jalan raya? Bukan kemacetan justru akan memadati
jalan? Jepang telah berhasil memproduksi sekian banyak sepeda motor
untuk dieksporkan ke luar negri. Khusunya di Indonesia banyak menerima
masukan sepeda motor baru untuk diperjualbelikan.
Dari
kedua contoh di atas, bisa kita simpulkan bahwa warga negara Indonesia
masih belum percaya dengan kualitas produk dalam negeri dan sifat
konsumtif yang masih sangat besar. Sehingga dengan maraknya masih
berbondong-bondoh untuk membeli dan memakai produk-produk dan
barang-barang lainnya tanpa berusaha berfikir untuk bersifat produktif.
Jika negara kita hanya bisa menggunakan setiap fasilitas yang ada tanpa
berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang dapat difasilitaskan oleh orang
lain dan negara luar lainnya, maka Indonesia lambat akan sangat jatuh
ekonominya. Maka dari itu Indonesia sampai saat ini masih dikatakan
sebagai negara berkembang. Padahal sudah berpuluh tahun dilalui untuk
bisa mencapai negara maju, namun dengan sifat konsutif yang sangat besar
julukan “maju” pun belum pantas untuk diberikan kepada Indonesia.
Lihat saja negara Amerika Serikat dan negara maju lainnya, mereka sangat terdepan karena sifat produktif mereka yang sangat hebat. Banyak ponsel, senapan, peluru, mobil, furnitur, dan hasil produksi lainnya yang selesai mereka kemas dan diekspor ke seluruh belahan dunia. Khusunya Indonesia kini sudah menjadi tempat untuk percobaan pasar mereka. Seharusnya apakah Indonesia akan merasa sedih atau senang? Mungkin ini bisa menjadi salah satu penyebab ekonomi Indonesia kian melemah. Bayangkan saja jika 20 tahun ke depan akan menjadi negara maju, maka Amerika Serikat akan seperti apa? Jika Indonesia siap memproduksi lebih banyak daripada yang mengkonsumsi, mungkin negara-negara luar akan percaya bahwa Indonesia merupakan salah satu negara maju di dunia. Kita bersama-sama berusaha dan berdoa agar Indonesia dapat menjadi maju layaknya seperti Amerika Serikat negara maju lainnya bukan dalam hal keterlambatan
FREE DOWNLOAD
